Mengenali Potensi Desa melalui Pelaksanaan Kegiatan Fisik PNPM-MPd


Inspirasi dari Pembangunan Bendung Cieunteung Kecamatan Sagalaherang

Berbicara mengenai mata pencaharian sebagian besar warga yang tinggal di Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, tidak terlepas dari bertani dan berkebun. Desa Sagalaherang Kaler memiliki lahan pertanian yang luas, sekitar 322 Ha dari total luas wilayah 689 Ha merupakan areal pertanian warga. Tentunya hal ini membuat Desa Sagalaherang Kaler tidak dapat terlepas dari keberadaan sumber daya air yang digunakan untuk mengairi areal lahan pertaniannya. Sebagian besar sawah yang ada di Desa Sagalaherang Kaler bergantung pada air sungai dan saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan oleh masa tanam padi di Desa Sagalaherang dapat dilakukan sepanjang tahun, bahkan dalam musim kemarau sekalipun.
            Namun, keadaan ini berubah saat bendungan di Desa Sagalaherang Kidul tepatnya yang berada di Kampung Cieunteung mengalami jebol ditambah curah hujan yang tinggi pada tahun 2010. Bendung Cieunteung yang pada awalnya merupakan sumber utama untuk mengairi sawah warga Desa Sagalaherang Kidul dan Sagalaherang Kaler kini tidak lagi dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh kedua warga Desa.
            Berbagai upaya telah dilakukan oleh warga di kedua Desa untuk memperbaiki bahkan membangun kembali Bendung Cieunteung yang rusak tersebut. Berbagai proposal telah dibuat bahkan diajukan ke instansi pemerintah, mulai dari Dinas Pertanian, Dinas PU, sampai ajuan Dana Aspirasi ke DPRD Subang. Akan tetapi hasilnya tidak kunjung ada kejelasan dan kepastian kapan akan diluncurkannya dana maupun bantuan oleh pihak yang dituju. Bahkan, untuk menanggulangi jebolnya bendungan ini warga setempat sempat mencoba melakukan pembendungan seadanya yang tentunya manfaat pengelolaan airnya pun seadanya. Akhirnya, pada tanggal 4 Oktober 2013 lalu, Melalui Musyawarah Desa Prioritas Usulan PNPM Mandiri Perdesaan, disepakati secara bersama untuk memprioritaskan pembangunan Bendung Cieunteung ini.
Selasa tanggal 18 Februari 2014 di Aula Kecamatan Sagalaherang, dilaksanakan MAD Penetapan Usulan yang berbarengan dengan Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan. Dari 21 usulan kegiatan yang terdapat dalam PNM MP baik usulan ekonomi maupun usulan fisik, usulan pembangunan Bendung Cieunteung mendapatkan prioritas ke 7 dari 12 prioritas usulan yang akan dibiayai oleh dana BLM PNPM MP Tahun Anggaran 2014. Untuk mendukung kelancaran pembangunan bendungan tersebut, muncul dukungan swadaya dari masyarakat berupa pengumpulan bahan baku material. Bahan material yang dimaksud antara lain adalah batu belah yang terdapat disekitar lokasi pembangunan. Selain batu belah, ada juga warga yang memberikan bantuan berupa semen, pasir bahkan tenaga. Dengan memanfaatkan potensi alam yang ada selama tiga hari sejak tanggal 19 sampai 22 september 2014 masyarakat berhasil mengumpulkan swadaya batu belah sampai sebanyak 30 M3. Setelah swadaya bahan material sudah terkumpul, pada hari rabu, 24 september 2014, warga mulai melaksanakan kegiatan pembangunan bendungan. Tahap pertama yang dilakukan dalam pembangunan bendung tersebut adalah melakukan penggalian pondasi bendung. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan langsir bahan material berupa pasir, semen dan batu belah ke lokasi pembangunan bendung. Hal ini dilakukan mengingat kondisi geografis pembangunan bendung yang terbilang sangat curam. Sehingga membutuhkan upaya ekstra dari TPK maupun pekerja untuk memudahkan kegiatan pembangunan bendung.
Pembangunan bendung Cieunteung dengan kontruksi yang dapat dikatakan sederhana, ternyata tidak sesederhana manfaatnya. Pemanfaatan Dana BLM yang hanya Rp 92.535.000,- ternyata memberikan manfaat yang besar dan meluas. Akan sangat banyak areal sawah pertanian yang dailiri air dari bendung Cieunteung, diantaranya adalah Kampung Cieunteung, Kampung Borondong, Kampung Cileungsing, Kampung Gudang Garam di Desa Sagalaherang Kaler dan Kampung Ciherang di Desa Leles. Setidaknya ada 718 KK atau setara dengan 22 Kelompok Tani di masing-masing Desa yang nantinya akan memanfaatkan aliran air dari bendung Cieunteung ini
         Dibalik pelaksanaan PNPM MP di Desa Sagalaherang Kaler Kecamatan Sagalaherang – Subang tidaklah bertumpu pada pembangunan fisik semata, melainkan pembangunan kesadaran warga Desa untuk lebih dapat memahami kebutuhannya dan potensi yang dimiliki Desa. Prinsip pemberdayaan yang mengacu pada proses penyadaran dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi mau dan kemudian menjadi mampu setelah tahu. Walau bagaimana pun, proses lah yang harus dikedepankan, karena dalam proses tersebut terdapat banyak pembelajaran dan manfaat yang dapat diterima oleh masyarakat. Partisipasi warga dalam rangka kegiatan pembangunan bendung Cieunteung tidak hanya berasal dari warga Desa Sagalaherang Kaler saja melainkan juga datang dari Desa Sagalaherang Kidul. Laki-laki dan wanita mengambil bagian penting dalam susksesnya kegitan pembangunan bendung Cieunteung. Semoga dapat memberikan inspirasi bagi pembaca 

Comments

Popular posts from this blog

SELAMAT TINGGAL JEMBATAN TUA

"Sakitpun, harus Produktif"